SUKESI GUGAT

Sastra 19 Jun 2026 20:14 8 min read 83 views By Bono Kris

Share berita ini

SUKESI GUGAT
“Entah apa yang ada di pikiran ayah, sehinggga aku dijadikan sayembara. Tidak bisakah aku menentukan nasibku sendiri?”

SUKESI GUGAT

 

                “Entah apa yang ada di pikiran ayah, sehinggga aku dijadikan sayembara. Tidak bisakah aku menentukan nasibku sendiri?”

                Ndhuk, kamu ini satu-satunya harapanku. Kamu tahu, dalam tata kerajaan  penerus tahtaku haruslah seorang pangeran. Aku berharap dengan adanya sayembara ini, para sesepuh kerajaan dan rakyat akan tercurah perhatiaannya pada sayembara memperebutkan dirimu. Pada akhirnya tahta ayahmu ini akan menjadi milikmu, Sukesi.”

                “Ayah, aku tidak membutuhkan tahta dalam hidupku. Aku yakin dengan menjadi putri ayah, kerajaan berkewajiban mencukupi kesejahteraanku. Kalau aku sudah sejahtera, untuk apa tahta itu?”        

                “Kamu belum menyadari kodratmu anakku. Kamu itu anak seorang Raja, maka kamu pun harus menjadi Raja, bukan isteri raja. Semua yang melamar Raja, maka kodratmu akan turun menjadi isteri raja.”

“Tetapi berarti ayah telah mengobankan tidak hanya hidupku, juga perasaan cintaku. Ketahuilah ayah, aku sebenarnya sudah mempunyai seorang kekasih. Dia adalah abdi dalem yang mengurus kuda-kuda kerajaan. Aku sangat mencintainya ayah. Aku merasakan akan adanya jaminan kebahagiaan.”

“Dia seorang abdi anakku!”

“Bukan. Dia seorang titisan dewa. Kelembutan dan cinta kasih ada dan menjelma dalam dirinya.”

“Dari mana kamu bisa melihat itu?”

“Perasaan cintalah yang menuntunku.”

“Itu hanya khayalanmu.”

“Itu kenyataan ayah.  Saat ia menjelma menjadi dewa, kulihat wajah yang agung.”

“Kamu terbuai khayalmu.”

“Pada saat yang tepat, aku akan mempertemukan dirinya kepada ayah.”

“Dewa siapa dia?”

“Setampan Dewa Surya.”

“Hhh .... Sebentar lagi Prabu Danaraja akan mengirim ayahnya untuk menguraikan ajaran Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Setua ini pun ayah tidak bisa mengerti. Kelak kalau kamu sudah mendapat ajaran itu, kamu akan menguasai dunia. Dan kerajaanku akan kuwariskan kepadamu.”

“Kebahagiaan semu selalu ayah paksakan kepadaku.”

“Dengan mempelajari ilmu itu, kamu akan mengerti kebahagiaan sejati.”

“Kebahagiaan sejati sudah aku dapatkan.”

“Prajurit! Aku ingin bertemu dengan sahabatku Resi Wisrawa. Sudah tidak sabar aku mendengarkan wejangannya.”

“Aku, Resi Wisrawa, ayahanda Danaraja putraku, bermaksud menghadap Prabu Sumali.”

“Sang Resi lah yang aku tunggu. Aku menunggu para Dewa datang ke kerajaanku menghentikan wejangan Sastra Jendra. Sudah saatnya seluruh rakyat mengerti ajaran Sastra Jendra. Jangan sampai saat Sang Resi menghadap Dewata, ajaran Sastra Jendra musnah tanpa saksi hidup.”

“Tetapi isi surat Sastra Jendra bisa memunculkan kerusuhan bangsa ini..”

“Aku lah pengusasa kerajaan ini. Barang siapa hendak melawanku, ia harus pergi dari kerajaanku. Mengikutlah denganku mereka semua yang mengikuti perintahku.”

“Tidak semudah itu Dimas Prabu. Ini adalah kekuasaan Dewa. Surat ini bahkan sempat diragukan keberadaannya, karena Dewa pun tidak menguasainya. Dalam surat itu tertulis siapa sebenarnya pewaris tahta kerajaan Kahyangan, dan kepada siapa Dimas Prabu mewariskan tahtanya. Tentu Dimas Prabu sudah memilih pewaris tahta kerajaan ini.”

“Sampai sebegitu jauhkah?”

“Sejauh Dimas Prabu memiliki harapan.”

“Siapakah Resi ini sehingga mengerti akan nasibku?”

“Sastra Jendra lah yang memberitahuku.”

“Kalau begitu beritahukanlah isi Sastra Jendra kepada putriku.”

“Kemarilah ananda Sukesi. Sudah tidak sabar aku memberikan wejangan kepadamu.”

“Baiklah Kakanda.”

“Sukesi, ini adalah Resi Wisrawa. Ayahanda Prabu Danaraja yang ingin mempersunting kamu. Mengapa kamu memanggilnya kakanda?”

“Orang setampan ini adalah seorang ayah dari seorang raja? Aku yakin beliau adalah seorang Raja. Prabu Danaraja pasti telah merampasnya darinya. Belum saatnya pria tampan ini lengser keprabon.”

“Sadarlah Sukesi anakku. Yang mempersunting kamu adalah putranya Danaraja.”

“Ayah selalu memutarbalikkan kenyataan. Yang datang ke Alengka adalah yang melamar dan mengikuti sayembara yang ayah adakan. Semuanya sudah jelas.”

“Baiklah Resi Wisrawa. Uraikanlah ajaran Sastra Jendra kepada anakku Sukesi.”

“Baiklah. Sebelum aku memulai, kgambarkan sekilas tentang Sastra Jendra ini. Ajaran Sastra Jendra itu adalah rahasia alam semesta. Mereka yang mampu membaca, memahami dan melaksanakan ajaran Sang Maha Pencipta akan menjadi besar dalam kesempurnaan hidupnya. Mereka akan dapat mengenal watak dan nafsu diri pribadi. “

“Segeralah masuk ke dalam ruang pamujan. Berikan anakku Sukesi kesadaran Sastra Jendra.”

“Baiklah Dimas Prabu. Kemarilah ananda Sukesi.”

“Baik Kanda.”

“Sukesi! Itu calon mertuamu!”

“Ayah, aku tidak ingin seorangpun menggangguku.”

“Ya, ya... .”

“Aku tutup pintunya ayah.”

“Baiklah.”

“Ayo Kanda Wisrawa. Tidak ada lagi yang mengganggu kita. Aku tidak membutuhkan Sastra Jendra. Aku tahu itu hanya omong kosong para penguasa. Aku sudah bosan dengan tata cara palsu. Demi menyelamatkan nama baik, Dewa mencipta Sastra Jendra. Kanda Wisrawa, engkaulah suamiku. Marilah bersama denganku memerintah negeri Alengka.”

“Ananda Sukesi, tidak inginkah kamu mendengar ajaran Sastra Jendra?”

“Aku yakin Kanda Wisrawa bisa. Karena kerendahan hati Kanda lah aku telah menemukan cinta sejatiku. Kandalah yang berhasil mengurai Sastra Jendra, bukan Danaraja putramu. Kepadamulah aku menemukan cinta sejati itu. Aku pun tahu bahwa Kanda lah yang telah menyemai cinta dalam hatiku. Kanda lah pelayan yang merawat kuda-kuda kerajaan. Mengakulah Kanda Wisrawa. Kesaktianmu tidak bisa menutup murninya cintaku. Siapakah pria setampan Dewa Surya kalau bukan kanda Wisrawa. Mari. Kita tunggu apa lagi. Di sinilah aku mengharap Kanda menyemai benih cinta dalam pelukanku.”

“Sukesi.”

“Aku akan menyebar berita lewat para telik sandi. Batara Guru dan Uma lah yang merasuk dalam diri kita. Nafsu itu menggelora menghancurkan jati diri kita. Ya, Batara Guru dan Uma. Sempurna.”

“Sukesi.”

“Aku lakukan ini semua juga untuk mengingatkan ayah agar tidak selalu memaksakan kehendak. Dengan dalih rahasia Dewa, ayah mengorbankan rasa cintaku. Bahkan paman Jambumangli pun tiada henti merayuku. Dengan Kanda Wisrawa lah aku merasa aman. Siapa di negeri ini yang tidak mengenal kesucian Kanda Resi Wisrawa? Kesucian Kanda akan menjadi tempat persembunyian penolakanku pada kebijaksanaan ayah. “

“Sukesi.”

“Ya, Kanda Wisrawa.”

“Kini dirimu telah mengandung anakku. Danaraja anakku akan murka karenaku.”

“Mengapa Kanda takut? Kurang apa sehingga Kanda takut akan kemarahan Danaraja putramu? Bahkan kita akan memberi nama anak kita yang hampir sama dengan namanya. Dulu Kanda dinikahkan paksa dengan adik iparmu, Dewi Lokati. Menikah dengan adik ipar? Itu semua hanya akal-akalan orang tua kalian yang tidak ingin kehilangan kekuasaan. Hal seperti itulah yang menyebabkan mahamala dalam hidupmu. Darinya kau beri nama anak sulungmu  Wisrahwana, yaitu Danaraja sendiri yang memaksa dirimu segera turun dari tahtamu.Kini, aku akan menamakan anakku sulungku Rahwana.”

“Sukesi, Kahyangan akan murka melihat ini semua.”

“Kanda Wisrawa tenang saja. Aku sangat dekat dengan Batara Narada. Dia pernah memintaku juga menjadi isterinya. Bahkan karena hormatnya, ayahku hendak merestuinya. Siapa mau berjodoh dengan lelaki tambun seperti dia. Tapi demi kejadian kita ini aku akan mendekati dia. Aku akan minta kepadanya untuk membuat cerita palsu.”

“Cerita palsu?”

“Ya. Siapa meragukan kebenaran cerita Narada. Dari namanya saja kita mengetahui bahwa yang benar ada di lelaki tambun itu. Siapa rakyat yang akan meragukan kebenarannya?”

“Kamu akan bercinta juga dengan Batara Narada?”

“Percayalah dengan kesetiaan cintaku, Kanda. Sudah selayaknya aku mempermainkan mereka yang mempermainkan aku. Sudah berapa lama aku menjadi barang dagangan kekuasaan dan kesucian. Apakah kekuasaan dan kesucian itu? Pada masa ini kekuasaan telah menjelma menjadi tempat persembunyian tipu muslihat. Mengatasnamakan perintah orang tua, perintah raja, bahkan perintah Sang Hyang Wenang hanya untuk kekuasaan. Kesucian itu tidak lagi demi Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta Bumi kita ini, tetapi demi nama baik dan sanjungan. Di balik  kesucian itu kebusukan, lelaku sedheng, tipu muslihat, dan kepura-puraan merajai jiwa manusia.”

“Sukesi, mengapa kini ....”

“Ya, Kanda tidak perlu lagi mengurai Sastra Jendra, karena akulah Sastra Jendra itu. Kesucian semu hidup manusia telah aku ruwat. Aku telah membuka kekuasaan agung yang selama ini diagung-agungkan. Pada saatnya Rahwana anak kita akan selalu menggoda kemapanan kesucian dan kekuasaan itu. Siapakah dalam hidup ini yang mau berperan seperti Rahwana? Anak kita Kanda. Namun aku akan  menebusnya dengan kesucian tulus yang tidak mengejar kuasa melalui Kumbakarna dan Wibisana adik-adik Rahwana. Kanda, itulah Sastra Jendraku.”

“Sukesi, bukan itu Sastra Jendra. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ....”

“Sudahlah Kanda. Aku sendiri wujud nyata Sastra Jendra itu. Biarlah dunia berkaca pada hidupmu dan hidupku.”

“Sukesi, biarkan aku berhenti di pemujaan. Biarkan aku menepi lagi dengan Sastra Jendraku. Mengapa aku dihadapkan dengan Sastra Jendramu?”

“Segeralah kembali Kanda. Kanda harus segera mendampingi anak kita Rahwana.”

***

 

Cilacap, 31 Maret 2016

Petrus Bono Krisdiyanto

Atas permintaan Guru Sri Wintala Ahmad

 

               

Rumah Talenta Indonesia