LEGENDA NUSAKAMBANGAN

Sastra 17 Jun 2026 21:51 14 min read 78 views By Bono Kris

Share berita ini

LEGENDA NUSAKAMBANGAN
Di balik debur ombak Samudra Selatan dan rimbunnya hutan Nusakambangan, tersimpan sebuah legenda yang telah diwariskan turun-temurun. Kisah ini menceritakan perjalanan Resi Kano yang bijaksana, Prabu Aji Pramosa yang sakti namun dikuasai ambisi, serta Dewi Wasowati yang menyimpan rahasia bunga Wijayakusuma. Sebuah petualangan penuh keajaiban, pertarungan batin, dan takdir yang akhirnya melahirkan nama Pulau Nusakambangan yang kita kenal hingga sekarang.

Malam itu langit Kediri tampak cerah. Bulan purnama menggantung tinggi, menerangi halaman istana yang luas. Lampu-lampu minyak berjajar di sepanjang pendapa, membuat bangunan kerajaan tampak megah dan berwibawa.

Namun, kemegahan itu tidak mampu menenangkan hati Prabu Aji Pramosa.

Raja yang terkenal sakti itu berdiri di dekat jendela istana. Tatapannya menerobos gelap malam. Sesekali ia mengepalkan tangan seolah sedang menahan amarah yang bergolak dalam dadanya.

"Aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi," gumamnya.

Seorang abdi yang berdiri tidak jauh darinya menundukkan kepala. Ia tahu sang raja sedang diliputi kegelisahan. Tidak ada seorang pun yang berani bertanya.

Prabu Aji Pramosa memang dikenal sebagai penguasa yang kuat. Kerajaan Kediri berada di bawah kekuasaannya. Banyak kerajaan lain segan kepadanya. Ia memiliki pasukan yang tangguh dan berbagai ilmu kesaktian yang sulit ditandingi.

Tetapi ada satu hal yang tidak mampu ia kalahkan.

Rasa iri.

Beberapa bulan terakhir, nama seorang pertapa sering terdengar di mana-mana.

Namanya Resi Kano.

Orang-orang menyebutnya sebagai seorang resi yang bijaksana. Banyak rakyat datang kepadanya untuk meminta nasihat. Mereka menceritakan masalah hidup, kesedihan, maupun harapan mereka. Resi Kano selalu menerima siapa saja dengan ramah.

Tak sedikit orang yang pulang dengan hati lebih tenang setelah bertemu dengannya.

Hal itulah yang membuat Prabu Aji Pramosa tidak senang.

Baginya, hanya raja yang pantas dihormati oleh rakyat.

"Mengapa mereka lebih memuji seorang pertapa daripada rajanya sendiri?" pikirnya.

Semakin lama, perasaan itu semakin membesar seperti bara yang terus ditiup angin.

Akhirnya, suatu pagi, sang raja memerintahkan seluruh pejabat kerajaan berkumpul di balairung istana.

Satu per satu para nayaka praja memasuki ruangan.

Patih Cakrayuda datang paling awal. Di belakangnya menyusul para senapati, penasihat kerajaan, dan pejabat lainnya.

Mereka duduk rapi menunggu sang raja berbicara.

Prabu Aji Pramosa melangkah menuju singgasananya. Wajahnya tampak serius.

"Para punggawa kerajaan," katanya lantang, "aku memanggil kalian karena kerajaan kita sedang menghadapi bahaya besar."

Para pejabat saling berpandangan.

Bahaya besar?

Tidak ada perang.

Tidak ada wabah penyakit.

Tidak ada kerajaan yang menyerang.

Patih Cakrayuda memberanikan diri bertanya.

"Ampun, Paduka. Bahaya apakah yang mengancam kerajaan kita?"

Prabu Aji Pramosa mengembuskan napas panjang.

"Bahaya itu bernama Resi Kano."

Mendadak suasana menjadi hening.

Beberapa pejabat mengira mereka salah dengar.

"Resi Kano?" tanya salah seorang penasihat kerajaan.

"Benar!" jawab sang raja tegas. "Kalian tidak menyadarinya, tetapi orang itu semakin berpengaruh. Rakyat lebih mendengarkan nasihatnya daripada perintah kerajaan."

Patih Cakrayuda tampak ragu.

"Tetapi, Paduka... selama ini Resi Kano dikenal sebagai orang baik."

Sang raja langsung menatap tajam.

"Jangan tertipu oleh sikapnya! Orang seperti itulah yang paling berbahaya."

Tak ada lagi yang berani berbicara.

Mereka tahu sifat sang raja. Membantah hanya akan membawa masalah.

Akhirnya, keputusan pun dibuat.

Resi Kano harus meninggalkan wilayah Kediri.

Jika menolak, ia akan ditangkap.

Kabar itu segera menyebar.

Tak butuh waktu lama hingga berita tersebut sampai ke tempat tinggal Resi Kano.

Saat itu sang resi sedang duduk di bawah pohon besar. Beberapa muridnya tampak cemas setelah mendengar keputusan kerajaan.

"Guru, ini tidak adil!" kata salah seorang murid. "Paduka Raja telah berbuat sewenang-wenang."

Murid lainnya menambahkan, "Kami siap melindungi Guru."

Namun Resi Kano hanya tersenyum.

Wajahnya tetap tenang.

Ia menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin.

"Jangan membalas kemarahan dengan kemarahan," katanya lembut.

"Tetapi Guru..."

"Segala sesuatu terjadi atas kehendak Yang Mahakuasa. Jika aku harus pergi, maka aku akan pergi."

Para murid menundukkan kepala.

Mereka sedih mendengar keputusan itu.

Malam harinya, tanpa membawa banyak bekal, Resi Kano meninggalkan Kediri.

Ia berjalan seorang diri.

Langkahnya menyusuri jalan-jalan kecil, melewati sawah yang luas, menembus hutan yang gelap, dan menyeberangi sungai yang berarus deras.

Hari demi hari berlalu.

Kadang ia beristirahat di bawah pohon besar.

Kadang ia bermalam di dalam gua.

Kadang ia hanya berteduh di bawah tebing ketika hujan turun.

Meski perjalanan terasa berat, Resi Kano tidak pernah mengeluh.

Ia percaya bahwa setiap perjalanan memiliki tujuan yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Suatu sore, setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, ia tiba di pantai selatan Pulau Jawa.

Hamparan laut membentang sejauh mata memandang.

Ombak besar bergulung-gulung menghantam karang.

Angin laut berembus kencang.

Tempat itu terasa liar, sunyi, dan penuh misteri.

Resi Kano melanjutkan perjalanan ke arah barat.

Berhari-hari ia menyusuri garis pantai.

Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kawasan yang sangat sepi di dekat wilayah yang kini dikenal sebagai Cilacap.

Di sana terdapat perbukitan hijau, hutan lebat, serta karang-karang besar yang berdiri kokoh menghadang ombak samudra.

Saat melihat tempat itu, hati Resi Kano terasa tenteram.

"Inilah tempat yang kucari," bisiknya.

Ia lalu menetap di sana.

Hari-harinya diisi dengan berdoa, bertapa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Sementara itu, jauh di Kediri, Prabu Aji Pramosa mendengar kabar bahwa Resi Kano telah meninggalkan kerajaan.

Namun bukannya merasa lega, ia justru semakin marah.

"Dia pergi tanpa izinku!" bentaknya.

Padahal sebenarnya sang raja tidak ingin Resi Kano sekadar pergi.

Ia ingin sang resi lenyap selamanya.

Karena itulah ia mengirim pasukan ke berbagai penjuru Pulau Jawa.

Mereka diperintahkan mencari Resi Kano sampai ketemu.

Berbulan-bulan pencarian dilakukan.

Pasukan kerajaan menyusuri hutan, pegunungan, dan pesisir pantai.

Hingga suatu hari, seorang prajurit menemukan jejak sang resi di wilayah pantai selatan dekat Cilacap.

Kabar itu segera disampaikan kepada Prabu Aji Pramosa.

Mendengar laporan tersebut, mata sang raja berbinar.

"Akhirnya aku menemukanmu, Resi Kano."

Tanpa menunggu lama, ia memimpin sendiri perjalanan menuju pantai selatan.

Ia belum tahu bahwa perjalanan itu akan mengubah nasibnya untuk selamanya.

Dan di tempat itulah kelak akan lahir sebuah legenda yang terus diceritakan turun-temurun oleh masyarakat Nusakambangan.

 

***

Perjalanan menuju pantai selatan bukanlah perjalanan yang mudah.

Prabu Aji Pramosa memimpin langsung rombongannya. Di belakangnya berjalan puluhan prajurit pilihan serta para punggawa kerajaan. Mereka menembus hutan-hutan lebat yang belum pernah dijamah manusia, menyeberangi sungai yang berarus deras, dan mendaki perbukitan terjal.

Semakin dekat ke tempat tujuan, suasana terasa semakin ganjil.

Burung-burung hutan mendadak diam.

Angin bertiup lebih dingin daripada biasanya.

Bahkan kuda-kuda tunggangan para prajurit tampak gelisah dan beberapa kali meringkik tanpa sebab.

Patih Cakrayuda yang berjalan di samping sang raja mulai merasa khawatir.

"Paduka, tempat ini terasa berbeda. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengawasi kita."

Prabu Aji Pramosa hanya tersenyum tipis.

"Aku tidak takut kepada siapa pun."

Menjelang senja mereka tiba di sebuah kawasan berbatu yang menghadap langsung ke samudra selatan. Debur ombak menggema memukul dinding karang. Di kejauhan tampak seorang lelaki tua berjubah putih duduk bersila di atas batu besar.

Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun.

Ia tampak begitu damai.

Resi Kano.

"Itu dia!" seru seorang prajurit.

Prabu Aji Pramosa segera melangkah maju. Wajahnya memerah karena amarah yang selama ini dipendam.

"Resi Kano!" bentaknya.

Namun sang resi tidak membuka mata.

Ia tetap duduk dalam semadinya.

"Resi Kano!" bentak sang raja sekali lagi.

Perlahan-lahan Resi Kano membuka mata.

Tatapannya tenang seperti permukaan telaga yang tidak terusik angin.

"Ananda Prabu Aji Pramosa," katanya lembut. "Apa yang membawamu kemari?"

Pertanyaan itu justru membuat sang raja semakin marah.

"Aku datang untuk mengakhiri semua masalah yang kau timbulkan!"

Resi Kano menggeleng pelan.

"Aku tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun."

"Kau telah merebut perhatian rakyatku!"

"Aku hanya membantu mereka yang membutuhkan pertolongan."

"Kau berbohong!"

Prabu Aji Pramosa mencabut keris pusakanya.

Kilatan cahaya memancar dari bilah keris itu.

Para prajurit mundur beberapa langkah.

Mereka tahu betapa dahsyat kesaktian senjata milik sang raja.

"Paduka..." bisik Patih Cakrayuda.

Namun peringatan itu terlambat.

Dengan teriakan keras, Prabu Aji Pramosa melompat dan menghunjamkan kerisnya ke arah Resi Kano.

"Hiaaaattt!"

Saat itulah sesuatu yang luar biasa terjadi.

Tubuh Resi Kano mendadak memancarkan cahaya keemasan.

Cahaya itu semakin terang hingga membuat semua orang menutup mata.

Angin berembus kencang.

Udara dipenuhi aroma harum yang belum pernah mereka cium sebelumnya.

Ketika cahaya itu perlahan meredup, semua orang terkejut.

Resi Kano telah lenyap.

Tidak ada tubuh.

Tidak ada jejak.

Tidak ada darah.

Yang tersisa hanya batu tempat ia bertapa.

"Ke mana dia?" teriak seorang prajurit ketakutan.

"Mustahil!" seru yang lain.

Patih Cakrayuda menelan ludah.

Ia pernah mendengar kisah tentang para pertapa suci yang mencapai moksa, meninggalkan dunia tanpa meninggalkan jasad.

Mungkinkah itu yang baru saja terjadi?

Prabu Aji Pramosa sendiri terdiam.

Untuk pertama kalinya, ada rasa takut yang merayap ke dalam hatinya.

Namun kejutan belum berakhir.

Tiba-tiba bumi bergetar.

Bruummm!

Suara gemuruh terdengar dari arah laut.

Ombak yang semula tenang mendadak meninggi.

Langit berubah gelap.

Awan hitam berputar-putar di atas samudra.

"Apa yang terjadi?" teriak para prajurit.

Angin bertiup semakin kencang.

Pepohonan bergoyang liar.

Gelombang raksasa menghantam karang hingga menyemburkan air puluhan meter ke udara.

Lalu dari tengah lautan muncul sesuatu yang sangat besar.

Mula-mula hanya terlihat dua mata menyala.

Kemudian muncul kepala bersisik hijau kehitaman.

Disusul tubuh panjang yang berkelok-kelok di antara ombak.

Seekor naga raksasa!

Panjang tubuhnya bagaikan ular yang tak berujung.

Sisiknya berkilauan diterpa kilat.

Setiap kali ia mendesis, udara terasa bergetar.

"Semuanya mundur!" teriak Patih Cakrayuda.

Para prajurit berhamburan ketakutan.

Belum pernah mereka melihat makhluk sebesar itu.

Naga tersebut mengangkat kepalanya tinggi-tinggi lalu mengeluarkan suara yang menggelegar.

Suaranya menyerupai gabungan gemuruh petir dan deburan ombak.

Meski hatinya berdebar, Prabu Aji Pramosa berusaha tetap tenang.

Ia tidak ingin terlihat takut di hadapan pasukannya.

"Hanya seekor naga," katanya.

Dengan cepat ia mengambil busur pusakanya.

Ia menarik tali busur hingga penuh.

Sebuah anak panah bercahaya muncul di ujungnya.

"Pergilah dari hadapanku!"

Wuuusss!

Anak panah melesat membelah angin.

Tepat mengenai tubuh naga.

Makhluk itu mengaum keras.

Namun bukannya roboh, naga justru bergerak semakin liar.

Gelombang laut makin besar.

Air laut seakan mendidih.

Langit dipenuhi kilatan cahaya.

Prabu Aji Pramosa kembali melepaskan anak panah kedua.

Panah itu meluncur seperti kilat.

Kali ini tepat menghantam bagian perut naga.

Makhluk raksasa itu meraung untuk terakhir kalinya.

Tubuhnya berputar-putar di atas ombak.

Lalu perlahan tenggelam ke dalam laut.

Samudra kembali tenang.

Awan hitam menghilang.

Angin mereda.

Semua orang menarik napas lega.

Tetapi ketika mereka mengira semuanya telah selesai, keajaiban lain terjadi.

Di tempat naga itu menghilang muncul cahaya berwarna keperakan.

Cahaya itu semakin terang.

Lalu perlahan berubah menjadi sosok seorang perempuan yang sangat cantik.

Rambutnya panjang menjuntai.

Pakaiannya berkilauan seperti terbuat dari sinar bulan.

Langkahnya ringan seolah tidak menyentuh tanah.

Para prajurit tertegun.

Tidak seorang pun berani berbicara.

Perempuan itu tersenyum kepada Prabu Aji Pramosa.

"Salam, Prabu."

Sang raja menatapnya penuh keheranan.

"Siapa engkau?"

"Aku Dewi Wasowati."

Nama itu membuat suasana menjadi hening.

"Selama bertahun-tahun aku hidup dalam kutukan," lanjut sang dewi. "Aku harus menjelma menjadi naga dan tinggal di lautan ini. Hari ini kutukan itu berakhir."

Prabu Aji Pramosa masih belum mengerti.

"Apa hubungannya denganku?"

Dewi Wasowati tersenyum.

"Panahmulah yang membebaskanku."

Sang raja terkejut.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di tempat itu, hatinya dipenuhi rasa bangga.

Namun Dewi Wasowati mengangkat tangannya.

"Aku ingin membalas jasamu."

Dari balik cahaya yang mengelilinginya muncul setangkai bunga yang belum pernah dilihat siapa pun.

Kelopaknya berwarna putih keemasan.

Cahayanya berpendar lembut.

Harumnya menyebar memenuhi udara.

"Inilah Wijayakusuma," kata sang dewi.

Semua orang terpukau.

Bunga itu tampak begitu indah hingga sulit digambarkan dengan kata-kata.

"Jagalah bunga ini dengan baik, Prabu. Kelak bunga ini akan menjadi lambang kejayaan para raja di tanah Jawa."

Mata Prabu Aji Pramosa berbinar.

Ia mengulurkan tangan untuk menerimanya.

Tanpa disadarinya, takdir besar sedang menunggu.

Dan jauh di tengah samudra, sebuah pulau misterius perlahan mulai menampakkan peran pentingnya dalam sejarah.

Pulau yang kelak akan dikenal dengan nama Nusakambangan.

 

***

 

Prabu Aji Pramosa memandangi bunga Wijayakusuma yang berada di tangannya. Cahaya keemasan memancar lembut dari kelopaknya. Harumnya begitu menenangkan hingga para prajurit yang kelelahan seolah memperoleh tenaga baru.

Namun, perhatian sang raja tidak hanya tertuju pada bunga itu.

Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Dewi Wasowati.

Sosok perempuan itu tampak begitu anggun. Cahaya senja yang memantul di permukaan laut membuatnya terlihat seperti makhluk dari dunia kahyangan.

"Dewi," ujar Prabu Aji Pramosa penuh hormat, "aku berterima kasih atas hadiah yang sangat berharga ini."

Dewi Wasowati tersenyum.

"Hadiah ini bukan sekadar bunga, Prabu. Di dalamnya tersimpan berkah dan harapan. Namun ingatlah, siapa pun yang menerima anugerah harus menjaganya dengan hati yang bersih."

Prabu Aji Pramosa mengangguk. Meskipun demikian, dalam hatinya mulai tumbuh angan-angan yang besar.

Ia teringat pada pesan sang dewi.

Kelak bunga ini akan menjadi lambang kejayaan para raja di tanah Jawa.

Kalimat itu terus bergema di benaknya.

Bayangan tentang kekuasaan yang semakin besar memenuhi pikirannya.

Sementara itu, Dewi Wasowati berjalan menuju sebuah karang besar yang berdiri kokoh di tengah laut.

Karang itu sangat unik.

Bentuknya menyerupai pulau kecil yang terpisah dari daratan Jawa.

Di atasnya tumbuh semak-semak hijau yang bergoyang diterpa angin laut.

Sang dewi menunjuk ke arah pulau karang tersebut.

"Prabu, lihatlah tempat itu."

Prabu Aji Pramosa mengalihkan pandangannya.

"Itu hanya sebuah karang di tengah laut."

Dewi Wasowati menggeleng.

"Bukan. Kelak tempat itu akan menjadi pulau yang penting. Banyak cerita akan lahir di sana."

Angin berembus lembut.

Ombak berdebur perlahan di bawah kaki mereka.

Sang dewi kemudian melanjutkan perkataannya.

"Hari ini aku menyerahkan Wijayakusuma di tempat ini. Karena itu, biarlah pulau ini menjadi saksi dari peristiwa yang kita alami."

Prabu Aji Pramosa mendengarkan dengan saksama.

"Aku menamainya Nusa Kembangan," kata Dewi Wasowati.

"Nusa berarti pulau. Sedangkan Kembangan berasal dari kata kembang, yaitu bunga yang menjadi lambang harapan dan kehidupan."

Prabu Aji Pramosa mengangguk.

"Nusa Kembangan," ulangnya perlahan.

Nama itu terdengar indah sekaligus penuh wibawa.

Seolah memang telah dipersiapkan sejak dahulu kala.

Dewi Wasowati tersenyum.

"Suatu hari nanti banyak orang akan mengenal tempat ini dengan nama itu."

Belum sempat Prabu Aji Pramosa menjawab, tubuh Dewi Wasowati mulai memancarkan cahaya.

Mula-mula samar.

Lalu semakin terang.

Para prajurit menutup mata karena silau.

Ketika cahaya itu meredup, sosok sang dewi telah lenyap.

Ia kembali ke alamnya.

Yang tersisa hanyalah harum bunga yang masih tertinggal di udara.

Prabu Aji Pramosa berdiri terpaku.

Semua yang baru saja terjadi terasa seperti mimpi.

Namun bunga Wijayakusuma yang berada di tangannya membuktikan bahwa semua itu nyata.

"Ayo kita pulang!" perintahnya kepada para prajurit.

Mereka segera menyiapkan perahu.

Langit mulai berubah gelap.

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.

Perjalanan kembali menuju daratan pun dimulai.

Ombak laut selatan masih bergulung-gulung.

Perahu mereka naik turun mengikuti irama gelombang.

Prabu Aji Pramosa duduk di bagian depan perahu.

Tangannya menggenggam erat cangkok Wijayakusuma.

Ia tidak ingin kehilangan bunga itu.

Sedikit pun tidak.

Namun terkadang takdir memiliki rencana yang berbeda dari keinginan manusia.

Ketika perahu melewati sebuah gelombang besar, tiba-tiba tubuh sang raja terguncang hebat.

Brak!

Perahu bergoyang keras.

Para prajurit berpegangan agar tidak terjatuh.

Dalam kegaduhan itu, sesuatu terlepas dari tangan Prabu Aji Pramosa.

Plung!

Benda kecil itu jatuh ke laut.

Namun sang raja tidak menyadarinya.

Perjalanan terus berlanjut.

Barulah setelah mereka tiba di pantai, Prabu Aji Pramosa hendak melihat kembali hadiah dari Dewi Wasowati.

Tangannya meraba pinggang.

Kemudian kantung kain tempat ia menyimpan cangkok Wijayakusuma.

Kosong.

Seketika wajahnya berubah pucat.

"Di mana bunga itu?"

Ia mencari ke sana kemari.

Tidak ada.

Matanya membelalak.

Jantungnya berdegup kencang.

"Tidak mungkin!"

Ia membuka seluruh barang bawaannya.

Tetap tidak ditemukan.

Kini ia sadar.

Cangkok Wijayakusuma telah jatuh ke laut.

Prabu Aji Pramosa terduduk lemas.

Untuk pertama kalinya sejak menjadi raja, ia merasa benar-benar kalah.

Kalah oleh kecerobohannya sendiri.

"Kembalikan perahu!" perintahnya.

Malam itu juga mereka kembali mencari.

Mereka menyisir ombak.

Menerangi laut dengan obor.

Mencari di antara karang-karang.

Namun hasilnya nihil.

Cangkok Wijayakusuma tidak pernah ditemukan.

Hari demi hari berlalu.

Prabu Aji Pramosa masih memikirkan bunga tersebut.

Hingga suatu pagi, seorang nelayan datang ke istana membawa kabar yang mengejutkan.

"Ampun, Paduka," katanya sambil bersujud. "Hamba melihat sesuatu yang aneh di Pulau Nusa Kembangan."

Sang raja segera bangkit dari singgasananya.

"Sesuatu yang aneh?"

"Ya, Paduka. Di atas karang dekat pantai tumbuh sebuah tanaman yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Daunnya berkilau seperti terkena cahaya bintang."

Mendengar itu, jantung Prabu Aji Pramosa berdebar.

Jangan-jangan...

Tanpa menunggu lama, ia segera berangkat menuju pulau tersebut.

Sesampainya di sana, ia tertegun.

Di atas sebuah karang yang menghadap langsung ke samudra berdiri sebatang tanaman yang sangat indah.

Daunnya hijau mengilap seperti beludru.

Batangnya kokoh meskipun terus diterpa angin laut.

Dan di antara ranting-rantingnya bermekaran bunga-bunga yang bercahaya.

Harumnya menyebar ke seluruh penjuru pulau.

"Itu..." bisik sang raja.

Matanya berkaca-kaca.

Ia mengenali tanaman itu.

Tidak salah lagi.

Itulah Wijayakusuma.

Cangkok yang hilang ternyata tumbuh menjadi tanaman yang luar biasa.

Prabu Aji Pramosa berdiri lama di hadapan pohon tersebut.

Ia teringat kepada Resi Kano.

Ia teringat kepada Dewi Wasowati.

Ia teringat pada semua peristiwa yang terjadi selama perjalanan itu.

Untuk pertama kalinya, kesombongan yang selama ini memenuhi hatinya mulai runtuh.

Ia menyadari satu hal penting.

Tidak semua hal dapat dimiliki dengan kekuatan dan kekuasaan.

Ada anugerah yang hanya dapat diperoleh oleh mereka yang mampu menjaga kebijaksanaan dan kerendahan hati.

Sang raja menundukkan kepala.

Angin laut berembus lembut.

Ombak berdebur di kejauhan.

Seolah-olah alam sedang mengingatkan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari kehendak Sang Pencipta.

Sejak saat itulah masyarakat percaya bahwa Pulau Nusakambangan adalah tempat tumbuhnya bunga Wijayakusuma yang sakral.

Legenda tentang Resi Kano, Dewi Wasowati, dan bunga ajaib itu terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Hingga kini, ketika ombak Samudra Selatan menghantam karang-karang Nusakambangan, sebagian orang masih percaya bahwa gema deburnya membawa kisah lama tentang kesombongan, penyesalan, dan kebijaksanaan yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Rumah Talenta Indonesia