Keresahan Generasi Tua terhadap Remaja Masa Kini: Bahasa Indonesia, Literasi, Sastra, dan Bayang-Bayang AI

BAHASA 11 Jun 2026 11:37 5 min read 160 views By Tim RTI

Share berita ini

Keresahan Generasi Tua terhadap Remaja Masa Kini: Bahasa Indonesia, Literasi, Sastra, dan Bayang-Bayang AI
Keresahan generasi tua terhadap remaja masa kini adalah refleksi dari perubahan zaman yang sangat cepat. Penggunaan bahasa Indonesia yang berubah, menurunnya minat baca dan sastra, serta hadirnya AI memang membawa tantangan nyata. Namun perubahan tidak selalu berarti kemunduran.

Setiap generasi selalu memiliki kegelisahan terhadap generasi sesudahnya. Dahulu orang tua khawatir anak muda terlalu banyak mendengarkan radio, menonton televisi, atau bermain gim. Kini, kegelisahan itu berpindah pada cara remaja menggunakan bahasa Indonesia, kebiasaan membaca, minat terhadap sastra, serta ketergantungan pada kecerdasan buatan (AI) dalam kegiatan literasi. Di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat, kekhawatiran tersebut terasa semakin nyata.

Bahasa Indonesia yang Kian Ringkas dan Campur Aduk

Salah satu keresahan paling sering terdengar adalah penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja yang dianggap semakin “rusak”. Percakapan sehari-hari dipenuhi singkatan, campuran bahasa asing, istilah internet, dan struktur kalimat yang tidak baku. Kata-kata seperti gpp, otw, litereli, atau ngegas menjadi bagian dari komunikasi harian.

Bagi generasi tua, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran bahwa remaja kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka takut bahasa baku hanya digunakan saat ujian atau tugas sekolah, sementara dalam kehidupan nyata digantikan oleh bahasa campuran yang dianggap dangkal.

Namun, di sisi lain, bahasa memang selalu berubah mengikuti zamannya. Bahasa gaul dan serapan asing bukanlah hal baru dalam sejarah bahasa Indonesia. Yang menjadi persoalan bukan perubahan itu sendiri, melainkan apakah remaja masih mampu menyesuaikan ragam bahasa sesuai konteks: santai di media sosial, tetapi tetap cakap berbahasa formal di ruang akademik dan profesional.

Budaya Baca yang Melemah?

Keresahan berikutnya berkaitan dengan literasi. Banyak orang tua dan pendidik merasa remaja kini lebih akrab dengan layar pendek—video singkat, meme, dan unggahan media sosial—daripada buku atau artikel panjang. Konsentrasi membaca dianggap menurun; teks panjang sering terasa membosankan.

Data survei literasi di Indonesia memang kerap menunjukkan tantangan dalam budaya membaca. Meski akses informasi semakin luas, waktu yang dihabiskan untuk membaca buku tidak selalu meningkat. Generasi tua melihat paradoks: remaja terus-menerus memegang gawai, tetapi tidak otomatis menjadi pembaca yang mendalam.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Literasi bukan sekadar bisa membaca, melainkan kemampuan memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi informasi. Di era banjir konten digital, kemampuan tersebut justru semakin penting. Tanpa literasi kritis, remaja mudah terjebak hoaks, informasi dangkal, atau opini yang viral tetapi tidak akurat.

Sastra yang Makin Jauh dari Kehidupan Remaja

Sastra juga menjadi sumber kegelisahan. Banyak guru dan orang tua merasa puisi, cerpen, atau novel klasik semakin asing bagi remaja. Karya sastra dianggap sulit, lambat, dan kurang relevan dibanding hiburan digital yang serba cepat.

Padahal sastra memiliki fungsi penting: melatih empati, imajinasi, kepekaan bahasa, dan kemampuan memahami kompleksitas manusia. Ketika minat terhadap sastra menurun, generasi tua khawatir remaja kehilangan ruang refleksi dan kedalaman berpikir.

Meski demikian, gambaran ini tidak sepenuhnya suram. Bentuk sastra baru sebenarnya tumbuh di platform digital: puisi Instagram, cerita pendek di aplikasi baca, fan fiction, hingga spoken word di TikTok atau YouTube. Tantangannya adalah bagaimana menjembatani sastra klasik dengan bentuk-bentuk baru yang lebih dekat dengan dunia remaja.

AI dan Literasi: Ancaman atau Alat Bantu?

Munculnya AI generatif seperti chatbot dan alat penulis otomatis menambah lapisan keresahan baru. Banyak orang tua dan guru khawatir remaja menjadi malas berpikir karena tugas dapat diselesaikan dengan bantuan AI dalam hitungan detik. Kekhawatiran yang sering muncul antara lain:

  1. Menurunnya kemampuan menulis asli. Remaja dianggap lebih memilih menyalin hasil AI daripada menyusun argumen sendiri.
  2. Berkurangnya daya kritis. Jika jawaban instan selalu tersedia, proses mencari, membandingkan sumber, dan berpikir mendalam bisa terabaikan.
  3. Ketergantungan teknologi. AI dikhawatirkan menjadi “jalan pintas” yang mengurangi disiplin belajar.

Namun AI tidak sepenuhnya negatif. Dalam praktiknya, AI juga dapat menjadi alat literasi yang kuat: membantu mencari ide, merangkum bacaan, memperbaiki tata bahasa, menerjemahkan teks, atau memicu diskusi kritis. Masalah utama bukan keberadaan AI, melainkan cara menggunakannya.

Di Mana Letak Masalah Sebenarnya?

Sering kali kegelisahan generasi tua muncul karena perbedaan kebiasaan, bukan semata-mata penurunan kualitas. Remaja masa kini hidup di lingkungan digital yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka membaca lebih banyak teks singkat, berkomunikasi cepat, dan terbiasa dengan multimodalitas—teks, gambar, video, dan suara sekaligus.

Perubahan ini memang membawa risiko: perhatian terpecah, pembacaan dangkal, dan bahasa yang serba ringkas. Tetapi perubahan juga membuka peluang: akses pengetahuan lebih luas, ruang ekspresi baru, dan kemampuan berkolaborasi secara digital.

Yang perlu dijaga adalah keseimbangan. Remaja tidak harus meninggalkan bahasa gaul atau teknologi modern, tetapi mereka perlu dibekali kemampuan untuk:

  1. menggunakan bahasa Indonesia sesuai konteks,
  2. membaca secara kritis dan mendalam,
  3. mengapresiasi sastra sebagai bagian dari kebudayaan,
  4. memanfaatkan AI secara etis dan produktif.

Peran Keluarga dan Pendidikan

Kekhawatiran generasi tua seharusnya tidak berhenti pada keluhan. Yang lebih penting adalah membangun jembatan antargenerasi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menjadi teladan literasi. Anak sulit gemar membaca jika orang dewasa di sekitarnya jarang membaca.
  2. Mengajak berdialog, bukan menghakimi. Bahasa gaul atau kebiasaan digital dapat dibahas bersama tanpa merendahkan dunia remaja.
  3. Menghubungkan sastra dengan kehidupan nyata. Karya sastra perlu dipresentasikan sebagai cermin pengalaman manusia, bukan sekadar materi ujian.
  4. Mengajarkan literasi digital dan AI. Remaja perlu memahami etika penggunaan AI, pentingnya verifikasi sumber, dan nilai orisinalitas karya.

Penutup

Keresahan generasi tua terhadap remaja masa kini adalah refleksi dari perubahan zaman yang sangat cepat. Penggunaan bahasa Indonesia yang berubah, menurunnya minat baca dan sastra, serta hadirnya AI memang membawa tantangan nyata. Namun perubahan tidak selalu berarti kemunduran.

Tugas bersama—orang tua, guru, dan masyarakat—bukan mengembalikan remaja ke masa lalu, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi generasi yang mampu berbahasa dengan baik, berpikir kritis, menghargai sastra, dan menggunakan teknologi secara bijak. Dengan begitu, literasi Indonesia tidak sekadar bertahan, tetapi berkembang mengikuti zamannya.

 

 

Rumah Talenta Indonesia