Apakah Generasi Muda Benar-Benar Meninggalkan Sastra?

Pendidikan 18 Jun 2026 22:13 4 min read 94 views By Penmay Ade Perdana

Share berita ini

Apakah Generasi Muda Benar-Benar Meninggalkan Sastra?
Keluhan tentang merosotnya minat sastra di kalangan generasi muda terdengar hampir setiap tahun. Guru mengeluhkan murid yang enggan membaca novel. Orang tua menganggap anak-anak lebih tertarik pada gawai daripada buku. Pegiat literasi khawatir puisi dan cerpen semakin kehilangan pembaca. Kini, kecerdasan buatan (AI) turut dituduh memperparah keadaan karena dianggap menyediakan jalan pintas yang menjauhkan remaja dari proses membaca dan menulis.

Keluhan tentang merosotnya minat sastra di kalangan generasi muda terdengar hampir setiap tahun. Guru mengeluhkan murid yang enggan membaca novel. Orang tua menganggap anak-anak lebih tertarik pada gawai daripada buku. Pegiat literasi khawatir puisi dan cerpen semakin kehilangan pembaca. Kini, kecerdasan buatan (AI) turut dituduh memperparah keadaan karena dianggap menyediakan jalan pintas yang menjauhkan remaja dari proses membaca dan menulis.

Di tengah berbagai kekhawatiran tersebut, muncul satu pertanyaan yang jarang diajukan: benarkah generasi muda telah meninggalkan sastra? Pertanyaan itu penting karena tidak semua hal yang tampak sebagai kemunduran sesungguhnya merupakan kemunduran. Ada kalanya yang berubah bukan minat manusianya, melainkan medium dan cara ekspresinya.Jika sastra dipahami semata-mata sebagai puisi di buku pelajaran, novel yang dibaca untuk tugas sekolah, atau cerpen yang dianalisis di ruang kelas, mungkin kita akan segera menyimpulkan bahwa sastra memang sedang kehilangan tempat. Namun kesimpulan itu menjadi kurang meyakinkan ketika kita melihat kehidupan digital yang dijalani remaja hari ini.

Jutaan remaja mengikuti kisah tokoh fiksi dalam serial, webtoon, novel daring, fan fiction, permainan naratif, hingga berbagai bentuk cerita digital yang terus berkembang. Mereka mendiskusikan karakter, memperdebatkan alur, menulis ulang akhir cerita, bahkan menciptakan dunia imajinatif mereka sendiri. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan manusia terhadap cerita tidak pernah benar-benar hilang. Yang berubah adalah tempat mereka menemukannya.

Selama berabad-abad sastra hidup karena kemampuannya menghadirkan pengalaman manusia melalui bahasa. Manusia membaca cerita untuk memahami dirinya, memahami orang lain, dan memahami dunia yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh angka maupun fakta. Kebutuhan itu tidak lenyap hanya karena teknologi berubah. Akan tetapi, di sinilah paradoksnya.

Di saat generasi muda masih mengonsumsi dan menciptakan berbagai bentuk narasi, sekolah justru sering memaknai sastra dalam batas yang semakin sempit. Sastra hadir sebagai materi yang harus dipelajari, diuji, dan dinilai. Karya sastra diperlakukan sebagai objek analisis sebelum sempat dialami sebagai pengalaman estetik. Murid diminta menemukan amanat sebelum sempat merasakan kegelisahan tokohnya. Murid diminta mengidentifikasi majas sebelum sempat menikmati bunyi dan irama bahasa. Murid diminta menjelaskan makna puisi sebelum diberi ruang untuk bertanya mengapa puisi itu ditulis. Akibatnya, sastra perlahan kehilangan daya hidupnya di ruang kelas. Bukan karena karya-karyanya tidak relevan, melainkan karena perjumpaan dengan karya tersebut sering didahului oleh kewajiban akademik. Padahal pengalaman sastra selalu dimulai dari keterlibatan, bukan dari penilaian. Seorang anak yang terpukau oleh dongeng sedang mengalami sastra. Seorang remaja yang merasa dirinya terwakili oleh sebuah lirik lagu sedang mengalami sastra. Seseorang yang terdiam setelah membaca cerita karena teringat pengalaman pribadinya sedang mengalami sastra.

Pengalaman-pengalaman semacam itu sering kali menjadi fondasi lahirnya minat baca yang sesungguhnya. Sayangnya, fondasi tersebut tidak selalu mendapat ruang yang cukup dalam praktik pendidikan. Kondisi ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan perkembangan AI. Banyak pihak khawatir bahwa kemampuan menulis akan melemah karena mesin dapat menghasilkan teks dalam hitungan detik. Kekhawatiran itu dapat dipahami. Namun persoalan yang lebih mendasar sesungguhnya bukan terletak pada kemampuan menghasilkan teks, melainkan pada kemampuan memberi makna terhadap pengalaman hidup.

AI dapat menulis puisi tentang kehilangan.

Namun AI tidak pernah kehilangan.

AI dapat membuat cerita tentang kerinduan.

Namun AI tidak pernah merindukan siapa pun.

AI dapat menjelaskan makna sebuah karya sastra.

Namun AI tidak menjalani kehidupan yang melahirkan karya tersebut.

Di sinilah sastra tetap memiliki posisi yang unik. Sastra bukan sekadar produk bahasa. Sastra merupakan ruang tempat pengalaman manusia diolah menjadi pemahaman. Karena itu, selama manusia masih mengalami cinta, kecemasan, harapan, kesepian, dan kehilangan, sastra akan tetap menemukan bentuknya, apa pun medianya. Mungkin karena itulah pertanyaan tentang masa depan sastra perlu diarahkan kembali. Persoalannya bukan apakah generasi muda masih menyukai sastra. Persoalannya adalah apakah kita bersedia mengakui bahwa sastra kini hadir dalam bentuk-bentuk yang lebih beragam daripada yang selama ini kita kenal.

Jika jawabannya ya, maka tugas pendidikan bukan menjaga sastra tetap berada di masa lalu. Tugas pendidikan adalah membantu generasi muda membangun jembatan antara warisan sastra yang telah ada dengan bentuk-bentuk narasi baru yang mereka hidupi sehari-hari. Sebab pada akhirnya manusia tidak hidup hanya dari informasi. Manusia hidup dari cerita yang memberinya makna. Dan selama manusia masih membutuhkan makna, sastra tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

Rumah Talenta Indonesia